Klinik Dewata Tirta Medika

Senin - Minggu : 07:00 - 21:00

Kanker Ovarium

Gejala Awal Kanker Ovarium yang Kerap Tak Disadari Halaman all - Kompas.com

Penyebab Kanker Ovarium

Hingga saat ini, dokter tidak memiliki kesimpulan pasti untuk masalah ini. Secara umum, kanker biasanya terjadi dikarenakan adanya perubahan gen pada tubuh seseorang yang menyebabkan sel-sel normal berkembang menjadi sel-sel kanker. Kemudian, sel-sel tersebut akan menduplikasi diri dan membuat tumor. Selain itu, sel-sel ini juga menyerang sel-sel sekitarnya dan menyebar ke organ lainnya.

Gejala Kanker Ovarium

Kanker ovarium jarang menimbulkan gejala pada stadium awal. Kalaupun ada, gejala-gejalanya menyerupai konstipasi atau gejala pada iritasi usus. Oleh sebab itu, kanker ovarium biasanya baru terdeteksi ketika kanker sudah menyebar dalam tubuh.

Beberapa gejala yang umumnya dialami oleh pengidap kanker ovarium,  meliputi:

  • Perut selalu terasa kembung
  • Pembengkakan pada perut
  • Sakit perut
  • Penurunan berat badan
  • Cepat kenyang
  • Mual
  • Perubahan pada kebiasaan buang air besar, misalnya konstipasi (sulit buang air besar)
  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat
  • Sakit saat berhubungan intim.

Pencegahan Kanker Ovarium

Seseorang bisa melakukan beberapa hal-hal berikut sebagai tindakan pencegahan kanker ovarium (kanker indung telur):

  • Memiliki anak lebih dari 1, penggunaan kontrasepsi pil minimal 1, pengikatan saluran tuba, dan histerektomi (pengangkatan rahim).
  • Konsumsi sayuran, vitamin A, dan vitamin C dalam jumlah yang cukup.
  • Melakukan pemeriksaan berkala. Pemeriksaan panggul rutin per tahun dapat digunakan untuk mendeteksi dini kanker ovarium yang tidak memiliki sensitivitas yang tinggi.

Pengobatan Kanker Ovarium

Penanganan kanker ovarium bisa berbeda-beda pada setiap kasus, sebab ditentukan berdasarkan stadium kanker, kondisi kesehatan, dan keinginan pengidap untuk memiliki keturunan. Penanganan utama kanker ovarium adalah melalui operasi, kemoterapi, ataupun radioterapi.

  • Operasi

Prosedur operasi biasanya meliputi pengangkatan kedua ovarium, tuba falopi, rahim, dan  omentum (jaringan lemak dalam perut). Operasi ini juga bisa melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening pada panggul dan rongga perut untuk mencegah dan mencari tahu jika ada penyebaran kanker. Dengan pengangkatan kedua ovarium dan rahim, pengidap tidak lagi dapat memiliki keturunan

Namun, lain halnya dengan kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium dini. Pengidapnya mungkin hanya akan menjalani operasi pengangkatan salah satu ovarium dan tuba falopi, sehingga kemungkinan untuk memiliki keturunan masih ada.

  • Kemoterapi

Kemoterapi dapat dijadwalkan setelah operasi. Ini dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa. Selama menjalani kemoterapi, dokter akan memantau perkembangan pengidap secara rutin guna memastikan keefektifan obat dan respons tubuh terhadap obat.

Kemoterapi juga dapat diberikan sebelum operasi pada pengidap kanker ovarium stadium lanjut dengan tujuan mengecilkan tumor, sehingga memudahkan prosedur pengangkatan.

Setiap pengobatan berisiko menimbulkan efek samping, begitu pula dengan kemoterapi. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah melakukan proses kemoterapi di antaranya tidak nafsu makan, mual, muntah, lemas, rambut rontok, dan meningkatnya risiko infeksi.

  • Radioterapi

Di samping operasi dan kemoterapi, radioterapi merupakan tindakan lain yang bisa menjadi alternatif. Dalam radioterapi, sel-sel kanker dibunuh menggunakan radiasi dari sinar X.

Leave a comment